CORTEXA
← Browse
openalexAl-Shamela Journal of Quranic and Hadith Studies2026-07-25

Epistemologi Tafsir Yudian Wahyudi terhadap QS. al-Baqarah [2]: 30-38: Analisis Perspektif <i>History of Idea</i>

Eko Zulfikar, Adrika Fithrotul Aini, Azhar Amrullah Hafizh, Afriadi Putra

Perkembangan tafsir al-Qur’an di Indonesia menunjukkan kecenderungan yang semakin kontekstual dalam merespons berbagai persoalan sosial, kebangsaan, dan kemanusiaan. Namun, kajian yang secara khusus mengkaji landasan epistemologis penafsiran mufasir kontemporer masih relatif terbatas. Artikel ini bertujuan menelaah epistemologi penafsiran yang dilakukan Yudian Wahyudi terhadap QS. al-Baqarah [2]: 30-38. Dengan menggunakan metode kualitatif dan analisis teori History of Idea, artikel ini menyimpulkan sebagai berikut. Pertama, epistemologi penafsiran kontekstual Yudian Wahyudi terhadap QS. al-Baqarah [2]: 30-38 tampak jelas mempertimbangkan konteks ayat yang hendak ditafsirkan dengan menempatkan empat prinsip dan metode penafsiran, yaitu konteks internal, konteks linguistik, konteks sosio-historis, dan konteks sosio-politik. Selain itu, penafsiran yang dilakukan Wahyudi menunjukkan koherensi dan konsisten dengan proposisi yang dibangunnya, serta konsisten dengan teori korespondensi dan pragmatisme. Hal ini karena Wahyudi meyakini bahwa penafsiran yang benar dapat memberikan solusi terhadap problem sosial di masyarakat. Kedua, dalam perspektif History of Idea, epistemologi penafsiran Wahyudi konsisten dengan keabsahan penafsiran era reformasi dengan penalaran kritis. Nalar kritis digunakan Wahyudi untuk melihat makna al-Qur’an dengan mengabaikan penafsiran-penafsiran sebelumnya yang dianggap kurang relevan dalam konteks kekinian. Bahkan, Wahyudi mengupayakan untuk memasukkan ilmu-ilmu pengetahuan modern seperti ilmu sosial dan humaniora ke dalam penafsirannya, sehingga dapat membawa penafsiran ke arah baru dengan mengedepankan indikator cinta tanah air dan pentingnya ideologi Pancasila. Artikel ini berkontribusi dalam memperkaya kajian epistemologi tafsir kontemporer di Indonesia dengan menunjukkan bahwa pendekatan History of Idea dapat digunakan untuk menjelaskan genealogi intelektual, konstruksi epistemologis, dan transformasi paradigma penafsiran al-Qur’an dari orientasi tekstual menuju kontekstual.